Jakarta, Motoris – Kementerian Perindustrian memproyeksikan subsektor industri otomotif berpeluang mencapai Net Zero Emission atau NZE jauh lebih cepat dari target nasional tahun 2050. Namun, optimisme tinggi ini kembali menguji kesiapan pemerintah dalam menjaga keseimbangan ekosistem manufaktur yang masih bergantung pada mesin pembakaran dalam.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menjelaskan bahwa secara umum pemerintah mematok target NZE nasional pada 2060, sedangkan Kemenperin mempercepatnya menjadi 2050 untuk sektor industri.
“Industri otomotif adalah salah satu sub sektor yang juga kami prioritaskan menjalankan secara konsisten industri hijau,” kata Faisol dikutip Kamis (1/10/2026).
Pendorong utama percepatan ini adalah pergeseran cepat teknologi produksi dan adopsi kendaraan listrik di pasar domestik. Kemenperin bahkan memetakan dua skenario terkait titik balik penjualan Battery Electric Vehicle yang diproyeksikan bakal menyalip kendaraan konvensional.
“Kami mencatat kalau kita memakai skenario cepat maka ada kemungkinan 2029-2031 ini di EV akan melampaui kendaraan ICE namun kalau kita melihat dengan skenario moderat saya kira pada 2032-2034 ini kemungkinan besar BEV akan melampaui ICE,” kata dia.
Atas dasar proyeksi pasar tersebut, sektor otomotif dinilai punya amunisi kuat untuk menekan emisi lebih cepat dari lini industri lainnya.
“Ini berarti bahwa kita kemungkinan besar, di sektor otomotif ini bisa lebih cepat mencapai NZE lebih dari target yang sebenarnya dicanangkan Kementerian pada 2050,” ucapnya.
Kendati demikian, percepatan skenario ini dinilai belum sepenuhnya memperhitungkan peran perantara dari teknologi hibrida dan plug-in hybrid. Tantangan terbesarnya kini terletak pada risiko guncangan industri jika peralihan dari mesin konvensional dilakukan terlalu drastis tanpa mitigasi tenaga kerja dan rantai pasok lokal.
“Namun demikian kita masih menyeimbangkan di antara industrialisasi, ekosistem industri yang selama ini terbentuk di ICE supaya bisa mengadopsi seluruh perubahan teknologi dan standar industri di sub sektor otomotif,” ujar dia lagi.









