Jakarta, Motoris – Karakter berkendara yang senyap dan minim getaran membuat mobil listrik dianggap lebih nyaman. Namun, anggapan tersebut tidak selalu tepat. Sejumlah penelitian justru menunjukkan karakteristik khas kendaraan listrik dapat memicu mabuk perjalanan bagi sebagian penumpang.
Riset William Emond dari Université de Technologie de Belfort-Montbéliard menjelaskan kondisi ini berkaitan dengan cara otak memproses gerakan. Mabuk perjalanan timbul saat perkiraan otak berbeda dengan sensorik tubuh, suatu kondisi yang dikenal sebagai neural mismatch. Ketidaksesuaian informasi yang berlangsung terus-menerus ini berujung pada rasa mual saat menggunakan mobil listrik.
Pada mobil listrik, respons akselerasi instan serta pengereman regeneratif menjadi pemicu utama. Sistem pengereman regeneratif sering kali memberikan sensasi deselerasi yang cepat dan mendadak. Perubahan gerakan yang terlampau responsif tersebut memperparah gejala mual pada penumpang yang sensitif.

Faktor posisi duduk dan visual turut memegang peranan. Saat berada di dalam kabin, mata menangkap pemandangan yang bergerak cepat, sedangkan tubuh berada dalam posisi diam. Perbedaan sinyal antara mata dan sensor tubuh membuat otak bingung, lalu meresponsnya lewat gejala pusing hingga sakit kepala.
Keberadaan layar hiburan berukuran besar di kabin mobil listrik modern semakin memperburuk keadaan. Ketika penumpang fokus menatap layar yang relatif diam, tubuh tetap merespons guncangan kendaraan. Ketidakselarasan informasi ini makin memicu neural mismatch.
Kendati demikian, mobil listrik bukan satu-satunya penyebab mual. Kendaraan konvensional pun dapat menimbulkan efek serupa pada individu rentan.
Untuk meminimalkan risiko mual, Profesor Natascha Tuznik dari University of California Davis menyarankan penumpang agar tetap melihat ke arah jalan dan menghindari penggunaan layar hiburan. Sementara dari sisi pengemudi, mengoperasikan pengereman regeneratif secara lebih halus sangat membantu menjaga kenyamanan penumpang.










