Jakarta, Motoris – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menuntut para pelaku industri otomotif nasional untuk segera membuktikan komitmen investasi yang pernah mereka janjikan kepada pemerintah. Hal ini didasari oleh data realisasi program kendaraan rendah emisi atau Low Carbon Emission Vehicle yang dinilai masih belum sesuai dengan harapan.
Hingga saat ini realisasi investasi pada sektor kendaraan ramah lingkungan tersebut baru mencapai Rp5,5 triliun. Angka ini dianggap sangat kecil jika dibandingkan dengan total komitmen awal yang mencapai Rp21,2 triliun. Kesenjangan nilai investasi yang sangat lebar ini memicu perhatian serius dari pemerintah dalam menjaga arah industri otomotif masa depan.
“Saya tentu menghargai capaian Rp5,5 triliun tersebut. Namun izinkan saya menyampaikan bahwa kami semua masih menunggu komitmen Rp21,2 triliun tersebut bisa terwujud” ujar Agus Gumiwang dalam pertemuan di ICE BSD, baru-baru ini.
Menanggapi situasi tersebut pemerintah menyampaikan tiga poin arahan strategis bagi seluruh agen pemegang merek dan pelaku industri di tanah air. Prioritas utama adalah mendorong percepatan suntikan modal yang sudah direncanakan sejak awal.
“Pertama, percepat realisasi komitmen investasi yang telah Bapak dan Ibu sampaikan di awal” tegasnya.
Selain masalah pendanaan pemerintah juga mendesak penguatan rantai pasok dalam negeri hingga ke pemasok lapis kedua dan ketiga. Langkah ini dianggap sangat penting sebagai fondasi ketahanan industri nasional sekaligus untuk memberikan ruang bagi industri kecil dan menengah agar lebih terlibat dalam ekosistem otomotif global.
Menteri Perindustrian juga menekankan bahwa Indonesia harus bertransformasi dari sekadar wilayah pemasaran menjadi pusat produksi utama serta pangkalan ekspor kendaraan untuk pasar internasional.
“Jadikan industri sebagai basis produksi dan basis ekspor bagi kawasan. Jadikanlah Indonesia bukan sebagai pasar” ungkapnya lagi.
Pemerintah berjanji akan menjaga stabilitas kebijakan guna mendukung para investor dalam mengambil langkah strategis jangka panjang. Meski demikian pengawasan serta evaluasi berkala tetap akan dilakukan untuk memantau kemajuan dari setiap janji investasi yang ada.
“Ini kami lakukan bukan dalam rangka mengawasi atau menakut-nakuti, melainkan untuk memastikan setiap komitmen memiliki jalan menuju perwujudan” pungkas Agus Gumiwang.










