Presiden sekaligus CEO baru Toyota Motor Kon Kenta secara terbuka mengungkapkan strategi utamanya untuk menjaga kesehatan finansial perusahaan di tengah persaingan pasar global yang semakin tajam. Dalam wawancara perdana dengan media ia menekankan bahwa kunci keberlanjutan bisnis Toyota terletak pada efisiensi ekstrem di lini produksi guna mendongkrak keuntungan.
Kenta menilai bahwa keberhasilan sebuah pabrikan otomotif tidak hanya dilihat dari angka penjualan melainkan dari proses manufaktur yang bersih dari pemborosan.
“Saya meyakini nilai Toyota diciptakan dan keuntungan perusahaan dihasilkan di lini produksi,” ungkapnya, Jumat (24/7/2026).
Ia berkomitmen untuk tetap mengakar pada prinsip dasar perusahaan dengan mengutamakan masukan dari para pekerja lapangan guna melakukan perubahan yang berdampak.
“Sebagai pemimpin, tanggung jawab saya adalah mendengarkan suara para pekerja di garis depan, lalu menerapkan berbagai perbaikan atau yang kami sebut sebagai kaizen.” kata Kenta.
Langkah krusial yang saat ini sedang ditempuh raksasa otomotif Jepang tersebut adalah memangkas variasi suku cadang. Langkah ini diambil karena model kendaraan yang sangat beragam mulai dari mesin bensin hingga mobil listrik justru menciptakan beban logistik dan operasional yang besar di pabrik. Strategi multi-pathway Toyota memang mampu memenuhi kebutuhan pelanggan namun sekaligus menambah tantangan terkait keterbatasan ruang penyimpanan.
“Titik awal sistem produksi Toyota adalah memangkas biaya dengan mengurangi persediaan dan ruang penyimpanan. Kami akan terus melanjutkan upaya-upaya mendasar seperti itu,” tegas Kon Kenta demi mempertahankan margin laba yang tetap sehat.
Selain perampingan komponen Toyota juga bersiap mengintegrasikan teknologi robotika dan kecerdasan buatan atau AI di pabrik mereka yang berlokasi di Kota Toyota Prefektur Aichi. Meski mengandalkan otomatisasi Kenta membantah bahwa mesin akan menyingkirkan peran manusia sepenuhnya dalam proses perakitan.
“Ada keterampilan yang tidak bisa digantikan oleh robot. Namun, ada pula keterampilan yang dapat diajarkan kepada robot” ujarnya.
Pihaknya kini sedang merancang bagaimana teknologi canggih tersebut bisa berkolaborasi dengan tenaga kerja manusia secara harmonis.
“AI juga berpotensi mengajarkan keterampilan tersebut kepada manusia maupun robot. Kami sedang membahas bagaimana menyempurnakan berbagai elemen itu di dalam pabrik,” tutur Kenta mengenai masa depan sistem produksi Toyota.








