Jakarta, Motoris – Perkembangan kendaraan listrik murni atau electric vehicle (EV) mulai memicu kekhawatiran di rantai pasok industri otomotif. Karakteristik mobil listrik yang minim komponen dibanding kendaraan bermesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE) mengancam keberlangsungan para pembuat suku cadang lokal.
Meski demikian, industri komponen dinilai tidak akan runtuh dalam waktu dekat karena proses transisi ke era elektromobilitas masih berjalan lambat.
President Director PT Astra Otoparts sekaligus Ketua Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM), Yusak Kristian, mengakui jumlah komponen pada satu unit EV memang jauh lebih sedikit dibandingkan kendaraan ICE.
Namun, lambatnya penetrasi EV dipengaruhi oleh infrastruktur pendukung yang belum merata. Di sisi lain, dominasi kendaraan hybrid justru menjadi penahan gempuran tersebut karena masih mengandalkan banyak komponen konvensional.
“Apalagi kalau EV-nya bukan EV murni. Misalnya ada yang hybrid EV atau plug-in hybrid EV. Itu komponennya masih banyak sekali yang sama dengan internal combustion engine,” kata Yusak, Senin (21/9/2026).
Peluang kelangsungan hidup produsen komponen juga bersumber dari pasar aftermarket atau komponen pengganti. Populasi mobil ICE yang sudah mengaspal memiliki usia pakai panjang dan membutuhkan perawatan berkala hingga puluhan tahun ke depan.
Jumlah unit yang beredar di jalanan dinilai jauh melebihi volume produksi mobil baru setiap tahunnya. Mobil-mobil konvensional tersebut diproyeksi masih bertahan hingga dua dekade mendatang.
Potensi ini kian kuat seiring peluang pertumbuhan populasi kendaraan roda empat di Indonesia yang diperkirakan bergeser dari kisaran 1 juta unit menuju 2 juta unit.
Dengan besarnya populasi mobil konvensional di jalan raya, ketergantungan pasar terhadap suku cadang ICE diprediksi tetap tinggi meskipun tren elektrifikasi terus didorong oleh pemerintah.










