Jakarta, Motoris – BMW dan Toyota baru saja memulai program uji coba penggunaan bensin terbarukan seratus persen di Spanyol bekerja sama dengan Bosch dan Repsol. Proyek ambisius ini seolah menjadi jawaban bagi para pecinta mesin pembakaran internal yang khawatir akan nasib industri otomotif konvensional di tengah gempuran tren mobil listrik yang kian masif di berbagai kota besar.
Uji coba ini melibatkan sekitar dua puluh unit kendaraan yang mengonsumsi bensin jenis Repsol Nexa 95. Bahan bakar tersebut disalurkan melalui jaringan SPBU reguler guna membuktikan bahwa transisi energi tidak memerlukan perombakan infrastruktur besar-besaran yang memakan biaya tinggi. Bosch turut mendukung proyek ini melalui teknologi Digital Fuel Twin untuk memastikan sertifikasi penggunaan bensin ramah lingkungan dilakukan secara akurat dari distribusi hingga ke tangki mobil.
Berbeda dengan bahan bakar fosil bensin terbarukan diproduksi dari limbah organik seperti minyak goreng bekas hingga residu pertanian. Keunggulan utamanya terletak pada karakteristik kimia yang identik dengan bensin biasa sehingga jutaan mobil yang sudah beredar saat ini tidak perlu melakukan modifikasi mesin apa pun untuk mulai menekan emisi karbon secara signifikan.
Langkah ini diambil saat regulator Uni Eropa sedang menggodok aturan ketat penghentian penjualan mobil bermesin pembakaran mulai 2035 mendatang. Namun BMW secara tegas menilai bahwa pengurangan emisi karbon global tidak seharusnya hanya bertumpu pada kendaraan listrik semata. Pabrikan asal Jerman tersebut yakin bahwa bahan bakar rendah emisi bisa menjadi kunci penyelamat bagi jutaan kendaraan yang masih aktif beroperasi saat ini agar tetap ramah lingkungan.
Toyota memiliki pandangan serupa dengan menilai bensin terbarukan sebagai solusi pelengkap yang sangat realistis terutama untuk wilayah yang adopsi kendaraan listriknya belum merata. Melalui kolaborasi ini para produsen berharap regulator dapat memberikan pengecualian bagi kendaraan bermesin pembakaran yang menggunakan bahan bakar netral karbon dalam penyusunan kebijakan otomotif masa depan. Keempat perusahaan tersebut menginginkan agar teknologi ini diakui sebagai solusi efektif untuk mengurangi emisi karbon tanpa harus sepenuhnya meninggalkan mesin pembakaran internal.










