Jakarta, Motoris – Manajemen Volkswagen kini sedang menggelar rangkaian pertemuan luar biasa dengan para pekerja di tengah rencana pemangkasan besar-besaran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Program efisiensi ekstrem ini mencakup kemungkinan pengurangan hingga 100.000 tenaga kerja serta penutupan beberapa pabrik mobil di Jerman. Langkah ini diambil sebagai respons atas krisis struktural akibat persaingan ketat dari produsen otomotif China serta keterlambatan perusahaan dalam transisi menuju kendaraan listrik.
Sebagai produsen mobil terbesar di Eropa, VW sangat terpapar persoalan kelebihan kapasitas produksi dan tingginya biaya operasional di Jerman. CEO Oliver Blume menegaskan bahwa saat ini VW berada dalam “kondisi yang lebih dari sekadar kritis” dan menilai langkah yang sudah diambil selama ini belum cukup untuk memulihkan daya saing global.
“Kami terlalu besar. Itu sering membuat kami terlalu lambat dan terlalu rumit,” ujar Blume dalam wawancara internal perusahaan, Kamis (27/8/2026).
Pertumbuhan VW yang sangat masif selama dekade terakhir justru membuatnya lebih gemuk dibandingkan para pesaingnya. Blume memperingatkan bahwa saat ini VW memproduksi sekitar setengah juta kendaraan lebih banyak daripada yang mampu diserap oleh pasar Eropa setiap tahunnya. Manajemen juga mengaku “saat ini tidak melihat cara agar pabrik-pabrik tersebut tetap menghasilkan keuntungan pada dekade 2030-an” jika tidak ada perubahan radikal.
Rencana ini memicu reaksi keras dari serikat pekerja. Christiane Benner selaku pemimpin serikat IG Metall menyebut para pekerja seolah “kembali mendapat tamparan di wajah” setelah sebelumnya sempat menyetujui restrukturisasi awal.
Ketua Dewan Pekerja Volkswagen Daniela Cavallo menyatakan bahwa “kepercayaan” terhadap jajaran direksi “telah rusak” namun ia menilai kondisi tersebut “belum sampai pada titik yang tidak dapat diperbaiki” melalui dialog yang tepat.
Guna menyelamatkan bisnis, Blume telah menyusun “rencana transformasi terbesar dalam sejarah Volkswagen Group” melalui Target Vision 2030. Strategi ini bertujuan memangkas separuh jajaran model VW serta menurunkan target produksi global dari 11 juta menjadi 9 juta unit per tahun. Langkah pahit ini harus diambil karena manajemen perlu “mengasumsikan bahwa risiko akan memburuk di seluruh dunia” terutama dengan ketidakpastian pasar global dan tekanan aturan emisi yang kian ketat. Blume meyakini bahwa beberapa tahun ke depan akan menjadi “masa yang menentukan” bagi keberlangsungan hidup sang raksasa otomotif Jerman tersebut.









