Jakarta, Motoris – Kondisi industri otomotif Thailand yang selama ini menjadi pusat produksi terbesar di Asia Tenggara sedang berada di titik nadir. Penjualan domestik pada 2024 merosot ke level terendah dalam 15 tahun terakhir akibat jeratan utang rumah tangga dan pengetatan kredit perbankan. Merespons krisis tersebut, pemerintah setempat mengkaji program subsidi besar-besaran senilai 24 miliar baht untuk mengganti 80.000 kendaraan tua menjadi kendaraan listrik atau EV.
Langkah strategis ini awalnya hanya menyasar armada komersial seperti taksi, bus, dan truk. Namun Wakil Menteri Perhubungan Thailand Siripong Angkasakulkiat mengungkapkan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan perluasan bantuan ke seluruh kategori kendaraan. Upaya ini diharapkan mampu merangsang kembali minat beli masyarakat yang sedang lesu.
Dukungan finansial ini semakin nyata setelah Mahkamah Konstitusi Thailand menyatakan rencana pinjaman darurat pemerintah sah secara hukum. Dana tersebut akan dialokasikan dalam bentuk subsidi, pinjaman bunga rendah, hingga insentif pajak bagi kendaraan yang memenuhi kriteria usia tertentu.
Para pelaku industri menekankan pentingnya keberpihakan pada produk lokal. Juru Bicara Automotive Industry Club Surapong Paisitpattanapong memberikan catatan penting bahwa “insentif baru sebaiknya difokuskan pada EV yang diproduksi di dalam negeri dan menggunakan mayoritas komponen lokal” demi menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Senada dengan hal itu, Wakil Presiden Electric Vehicle Association of Thailand Siamnat Panassorn menilai program tukar tambah sebaiknya hanya berlaku untuk kendaraan listrik buatan dalam negeri. Ia juga mendesak pemerintah untuk lebih memperhatikan segmen sepeda motor dan bus listrik yang memiliki tingkat emisi tinggi.
Sektor pikap yang menjadi tulang punggung otomotif Thailand dengan kontribusi 60 persen produksi nasional juga masuk dalam radar kebijakan ini. Menteri Keuangan Thailand Ekniti Nitithanprapas menyatakan bahwa program akan mencakup pembelian unit baru serta penggantian pikap konvensional menjadi model listrik atau mesin yang mendukung biodiesel B20. Pemerintah menargetkan skema ini mulai berjalan tahun ini untuk memastikan transisi energi sekaligus menjaga stabilitas ekonomi manufaktur.










