Dominasi raksasa otomotif Jepang di Asia Tenggara mulai terancam oleh serbuan kendaraan listrik (EV) murah asal Tiongkok. Menanggapi situasi ini, Toyota Motor Corp memilih mempertaruhkan Land Cruiser FJ.
Chief Engineer Toyota Masaya Uchiyama mengklaim angka pemesanan Land Cruiser FJ di Jepang melampaui target. SUV yang dibanderol mulai ¥4,5 juta atau US$28.500 (setara Rp510,63 juta) ini sengaja dirancang mungil agar lincah melibas jalanan Asia.
“Kami berupaya menjangkau orang-orang yang sebelumnya mungkin menghindari Land Cruiser karena ukurannya,” kata Uchiyama. Selasa (6/10/2026).
Namun, strategi merilis SUV bermesin konvensional di tengah masifnya pergeseran ke elektrifikasi memicu pertanyaan besar. Di Thailand, pasar EV yang disokong subsidi ketat telah mengerek pangsa merek China hingga mendekati 30 persen. Pabrikan seperti BYD, Chery, hingga MG terus menggempur dengan fitur canggih dan harga sangat kompetitif.
Uchiyama mengakui keunggulan teknologi kompetitor, meski ia tetap optimistis. “Pabrikan China memproduksi SUV dan mengintegrasikan teknologi yang sangat mengesankan,” tuturnya. Toyota pun mengandalkan rekam jejak daya tahan serta keandalan mekanis Land Cruiser sebagai nilai jual utama.
Secara teknis, Land Cruiser FJ dibekali mesin 163 HP dan sistem kemudi hidraulik. Kendati cekatan di lintasan off-road, putaran kemudi terasa lebih berat dibandingkan saudara besarnya.
Analis Bloomberg Intelligence Tatsuo Yoshida menilai ukuran terjangkau menjadi keunggulan FJ di perkotaan.
“FJ berpotensi menjadi model penting di Asia Tenggara karena dapat membuat merek Land Cruiser lebih terjangkau bagi segmen pelanggan yang lebih luas,” jelas Yoshida.
Meskipun demikian, harga Land Cruiser FJ yang menyentuh 1,29 juta baht di Thailand masih tergolong mahal jika dibandingkan pesaing langsung seperti Chery V23 yang dibanderol jauh lebih murah, yakni sekitar 700.000 baht. Tanpa efisiensi harga, manuver Toyota ini berisiko sekadar menunda kepunahan dominasi Jepang di kawasan ASEAN.










