Jakarta, Motoris – Industri otomotif global mencatat sejarah kelam terkait kelangsungan hidup kendaraan berbahan bakar minyak. Untuk pertama kalinya sejak mulai dipasarkan secara masif pada era 1920-an, penjualan mobil konvensional merosot drastis hingga berada di bawah ambang batas 50 persen.
Kejatuhan penjualan mobil bensin tak lepas dari gejolak konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak secara mendadak. Situasi ini memicu keengganan konsumen dalam menanggung beban biaya operasional harian yang makin tinggi.
Data Nikkei Asia menunjukkan penjualan mobil BBM dunia mencakup varian hibrida turun 10 persen pada semester pertama 2026 menjadi 20,25 juta unit. Hasil ini memangkas penguasaan pasar mobil konvensional menjadi tersisa 49 persen, merosot tajam dibanding posisi 2021 yang sempat menguasai 73 persen.
Pasar China memimpin penurunan kendaraan bensin sebesar 26 persen, disusul wilayah Eropa yang terkoreksi 13 persen.
Sebaliknya, segmen mobil listrik murni mencatat lonjakan 12 persen dengan angka penjualan tembus 6,87 juta unit. Pencapaian ini memberikan kontribusi 17 persen terhadap total volume penjualan kendaraan secara global.
Pasar Eropa menjadi wilayah dengan kenaikan pertumbuhan tertinggi mencapai 32 persen menjadi 1,81 juta unit, mengungguli total volume penjualan mobil bensin di kawasan tersebut. Wilayah Asia Tenggara turut mencatat akselerasi tajam dengan kenaikan 81 persen hingga menyentuh 350.000 unit.
Dominasi penjualan mobil dari produsen asal Tiongkok seperti Geely dan BYD menjadi pendorong utama penetrasi EV di berbagai belahan dunia. Kedua raksasa otomotif ini menguasai sekitar 60 persen pangsa pasar kendaraan ramah lingkungan global, sekaligus mempertegas ancaman nyata bagi keberlangsungan pabrikan mobil konvensional.










