Jakarta, Motoris – Raksasa otomotif asal Jepang yaitu Honda tengah mengalami guncangan besar yang memaksa mereka mengevaluasi ulang masa depan bisnisnya secara radikal. Pabrikan berlogo huruf H tersebut secara mengejutkan memutuskan untuk mengubah arah strategi kendaraan dari yang semula sangat agresif mengejar bisnis mobil listrik menjadi kembali fokus pada pengembangan teknologi hybrid.
Langkah putar balik ini diambil setelah Honda mencatatkan kerugian sebesar 423,9 miliar yen Jepang pada tahun fiskal lalu. Angka merah tersebut menjadi catatan sejarah yang sangat pahit bagi perusahaan karena merupakan kerugian pertama sejak Honda berdiri. Kerugian fantastis ini adalah dampak langsung dari pembengkakan biaya yang harus ditanggung perusahaan akibat pembatalan strategi mobil listrik Honda yang ambisius.
Honda mengungkapkan bahwa proses transisi untuk menjauh dari fokus kendaraan listrik murni ternyata memakan biaya yang sangat masif mencapai 2,5 triliun yen Jepang. Dalam rincian laporan keuangannya disebutkan bahwa kerugian pada tahun fiskal terakhir mencakup 1.577,8 miliar yen akibat “kerugian terkait kendaraan listrik” yang dialami perusahaan. Beban finansial ini diprediksi belum akan berakhir karena perusahaan memproyeksikan adanya dampak negatif lanjutan sebesar 500 miliar yen pada tahun 2027 mendatang.
Selain masalah internal biaya transisi performa pasar global Honda juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Penjualan mobil mereka merosot sebesar 8,9 persen secara global dalam setahun terakhir. Penurunan paling signifikan terjadi di pasar Tiongkok dengan kehilangan penjualan hingga 199.000 unit dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan pasar Amerika Utara yang selama ini menjadi lumbung utama juga mengalami penurunan penjualan sekitar 3 persen.
Kini Honda mencoba bersikap optimistis dengan bertaruh pada teknologi hybrid sebagai penyelamat neraca keuangan mereka. Manajemen mengklaim bahwa fokus baru pada kendaraan hybrid justru akan membawa perusahaan mencetak rekor laba operasi konsolidasi yang fantastis sebesar 1,4 triliun yen pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2029. Perubahan haluan strategis yang sangat tajam ini memperlihatkan bahwa ambisi besar di dunia EV ternyata bisa menjadi bumerang jika tidak dikelola dengan perhitungan pasar yang matang.










