Pilihan mobil listrik murah di pasar global melonjak drastis dengan tersedianya 630 model bertenaga baterai pada tahun lalu. Namun dari ratusan opsi tersebut konsumen cenderung hanya fokus pada segelintir kendaraan saja. Data terbaru menunjukkan lima model utama sanggup menguasai sekitar 20 persen total penjualan EV global dengan persaingan ketat antara teknologi premium dan harga terjangkau.
Tesla Model Y masih berada di garis depan dengan penguasaan pasar hampir 8 persen diikuti Tesla Model 3 yang meraih 3,6 persen pangsa pasar. Meski Tesla memimpin secara volume ancaman nyata datang dari tiga raksasa China yang menawarkan mobil listrik murah. Geely Geome Xingyuan, Wuling HongGuang Mini, dan BYD Seagull kini membayangi Tesla dengan harga jual di kisaran 10.000 dolar AS.
Selisih harga ini sangat mencolok mengingat Model Y termurah dibanderol mulai 36.700 dolar AS di China. Fenomena ini menciptakan kesenjangan pasar yang lebar di mana sekitar 85 persen EV yang terjual di Amerika Serikat adalah kendaraan besar atau SUV mewah. Sebaliknya di China sebanyak 30 persen kendaraan listrik yang laku memiliki harga di bawah 20.000 dolar AS.
Badan Energi Internasional atau IEA mengaitkan kesuksesan brand China ini dengan pertumbuhan pesat di pasar negara berkembang termasuk Asia Tenggara. Keterjangkauan menjadi faktor kunci yang mendorong peningkatan pangsa pasar secara masif karena konsumen di wilayah ini lebih mementingkan fungsionalitas dan harga.
Masa depan persaingan otomotif diprediksi akan semakin panas seiring proyeksi IEA bahwa jumlah model kendaraan listrik akan melonjak menjadi 1.250 pada tahun 2029. Angka ini hampir menyaingi total 1.580 model kendaraan berbahan bakar bensin dan hibrida yang ada di pasar dunia. Pertempuran antara mobil listrik murah asal China melawan dominasi brand mapan akan menjadi penentu wajah industri otomotif global dalam beberapa tahun ke depan.










