Industri otomotif nasional tengah menghadapi pergeseran besar seiring ambisi pemerintah mempercepat ekosistem kendaraan listrik. Kementerian Perindustrian mencatat investasi di sektor ini telah menyentuh angka Rp25,674 triliun dengan kapasitas produksi mobil listrik yang mencapai 409.860 unit per tahun.
Setia Diarta selaku Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin menegaskan pentingnya manfaat bagi industri lokal dalam transisi ini.
“Karena itu, transformasi menuju kendaraan listrik harus dipastikan berjalan baik dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi industri dalam negeri,” ujar Setia Diarta, di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Hingga Maret 2026 populasi kendaraan listrik di Indonesia menembus 358.205 unit dengan tren pertumbuhan tahunan di atas 140 persen. Data menunjukkan bahwa pasar kini mulai bergeser dari sekadar mencoba menjadi adopsi massal. Setia menambahkan bahwa preferensi konsumen mulai berubah drastis dan menjadi sinyal kuat bagi transformasi manufaktur.
“Terjadi perubahan preferensi konsumen. Masyarakat mulai memilih kendaraan yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Ini menjadi sinyal positif bagi transformasi industri otomotif nasional,” ungkap Setia Diarta.
Kukuh Kumara selaku Sekretaris Umum Gaikindo, menuturkan bahwa dalam satu dekade terakhir terjadi transformasi besar dari dominasi mesin pembakaran internal atau ICE menjadi multi-powertrain.
“Buktinya, penjualan mobil bermesin konvensional terus menurun. Sebaliknya, mobil elektrifikasi meningkat,” kata Kukuh.
Faktanya mobil listrik murni atau BEV kini menjadi primadona dengan porsi 15,9 persen per Maret 2026 yang secara mengejutkan melampaui mobil hybrid dengan porsi hanya 8,1 persen. Kukuh melempar pertanyaan kritis mengenai masa depan mesin bensin konvensional di tengah gempuran teknologi baterai.
“Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal apakah disrupsi BEV terus berlanjut, melainkan apakah ICE akan kena elektrifikasi juga?” ungkap Kukuh.
Pemerintah kini fokus pada pendalaman struktur industri melalui target TKDN hingga 80 persen pada 2030. Setia menekankan keinginan agar investasi tidak sekadar berhenti pada tahap perakitan unit.
“Kami ingin investasi kendaraan listrik tidak berhenti pada perakitan, tetapi terus berkembang menuju pendalaman struktur industri, termasuk baterai, komponen utama, dan rantai pasok nasional,” tegas Setia Diarta.










