Jakarta, Motoris – Masa kejayaan produsen mobil China tampaknya mulai menemui jalan buntu setelah mencatatkan tren penjualan yang terus melandai. Meskipun dikenal agresif dengan strategi harga murah dan fitur melimpah, data terbaru menunjukkan bahwa pasar domestik mereka tidak lagi mampu menopang pertumbuhan yang masif seperti tahun-tahun sebelumnya.
April 2026 menjadi catatan kelam karena menandai bulan ketujuh secara berturut-turut penurunan penjualan mobil baru di China. Fenomena ini diperkirakan terus berlanjut hingga Mei 2026 seiring dengan melambatnya permintaan terhadap mobil listrik murni maupun jenis plug in hybrid. Kondisi pasar yang mulai tidak menentu ini memaksa para raksasa otomotif untuk mengubah haluan strategi mereka secara ekstrem ke pasar internasional.
Merek besar seperti BYD, Chery, hingga SAIC Motor kini mulai mengalihkan fokus utama mereka ke pasar ekspor guna menambal lesunya permintaan dalam negeri. CEO Nio William Li memberikan gambaran jujur mengenai situasi sulit yang sedang terjadi saat peluncuran SUV Nio ES9 di Beijing.
“Bukan lagi pasar yang sedang tumbuh, melainkan pasar yang sudah jenuh,” ujar Li, dikutip Selasa (2/6/2026).
Upaya ekspansi global memang terlihat nyata melalui penetrasi ke pasar Australia hingga Kanada. Bahkan China diprediksi akan menyalip posisi Jepang sebagai eksportir mobil terbesar di dunia. Namun di balik ambisi besar tersebut tersimpan fakta pahit bahwa dari ratusan produsen mobil di sana hanya segelintir pabrikan yang masih bisa meraup keuntungan nyata.
BYD sebagai salah satu pemain utama bahkan gagal mencapai target penjualan pada tahun 2025 dengan selisih yang sangat mencolok hingga nyaris menyentuh angka satu juta unit. Tekanan global juga semakin terasa ketika kawasan Eropa mulai memberlakukan tarif tinggi bagi kendaraan asal China.
Situasi pelik ini akhirnya mendorong pabrikan mobil China untuk menanamkan modal besar guna membangun fasilitas produksi lokal di Benua Biru demi menghindari hambatan perdagangan yang semakin ketat. Pergeseran ini menjadi bukti nyata bahwa dominasi instan yang mereka nikmati sebelumnya kini harus menghadapi realitas pasar yang jauh lebih kompetitif.









