Invasi masif produsen otomotif asal China di pasar global kini berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan bagi supremasi merek-merek Jepang. Wakil Chairman Toyota Koji Sato memberikan peringatan keras bahwa cara-cara lama tidak lagi cukup untuk membendung dominasi Tiongkok. Menurutnya satu-satunya jalan untuk melawan balik adalah dengan persatuan seluruh pabrikan otomotif Jepang dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Koji Sato mengusulkan adanya langkah ambisius berupa standardisasi komponen dasar di antara para produsen mobil Jepang yang selama ini saling bersaing ketat. Langkah ini bertujuan untuk memangkas biaya produksi secara drastis serta meningkatkan efisiensi rantai pasokan. Ia menekankan bahwa tanpa adanya revolusi dalam cara memproduksi kendaraan maka masa depan industri otomotif Jepang berada dalam bahaya besar.
“Kecuali ada perubahan, kita tidak akan bertahan,” kata Sato seperti dilaporkan Automotive News.
Sebagai pemimpin asosiasi otomotif Jepang (JAMA), Sato menyarankan agar komponen seperti baja, rangkaian kabel, hingga material plastik dibuat seragam untuk merek-merek besar seperti Honda, Mazda, Mitsubishi, Nissan, Subaru, Suzuki, dan Toyota. Ia mencontohkan bahwa saat ini terdapat 70.000 varian rangkaian kabel yang diproduksi oleh pemasok. Jika jumlah ini disederhanakan melalui standardisasi maka penghematan biaya akan sangat signifikan.
Dana hasil efisiensi tersebut nantinya dapat dialihkan untuk pengembangan teknologi yang menjadi daya tarik utama mobil China saat ini. Hal tersebut mencakup fitur perangkat lunak, sistem bantuan pengemudi canggih, teknologi baterai dengan pengisian daya lebih cepat, serta pilihan powertrain yang lebih beragam.
Kekhawatiran Sato didasari pada data nyata di lapangan khususnya di pasar Eropa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah penjualan gabungan merek China yang terdiri dari Geely Group, SAIC Motor, BYD, Chery Automobile, dan Leapmotor berhasil melampaui total penjualan seluruh merek Jepang pada Mei 2026.
Produsen China mencatatkan penjualan 138.140 unit sementara gabungan Toyota dan merek Jepang lainnya hanya mencapai 130.424 unit. Pergeseran peta kekuatan ini menjadi sinyal merah bahwa dominasi Jepang sedang digerogoti secara perlahan oleh efisiensi dan inovasi agresif dari Tiongkok.










