Jakarta, Motoris – Pebisnis otomotif mendukung rencana pemerintah mengembangkan bioetanol untuk memperkokoh ketahanan energi nasional. Proyek ini harus dijalankan secara konsisten alias jangan jadi proyek angin-anginan.
“Jadi, proyek ini jangan hanya digarap saat harga minyak tinggi seperti saat ini, melainkan tetap dieksekusi ketika nanti harga minyak turun,” ujar Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam di Jakarta, belum lama ini.
Dia menuturkan, program biodiesel dari B10 hingga B40 mendapatkan dukungan dari industri otomotif. Bisa dibilang Indonesia sukses mengembangkan biodiesel, sehingga banyak diapresiasi banyak negara. “PR-nya sekarang tinggal bioetanol,” kata Bob.
Dia menuturkan, program biodiesel dijalankan saat terjadi booming komoditas sawit alias di era 2010-an. Program ini menjadi salah satu katalis pertumbuhan ekonomi 6% dan peningkatan pendapatan per kapita menjadi US$4.000.
Sebab, sekitar 5 juta rumah tangga tergantung sektor sawit. Geliat sektor ini memicu pemerataan, bukan hanya pertumbuhan tinggi.
Dia meyakini, program bioetanol juga bisa menjangkau 5 juta petani. Pendapatan per kapita Indonesia bisa terkerek tinggi, bahkan bisa menyentuh US$10 ribu.
“Memang ini tidak mudah, butuh konsistensi. Bahkan, Brasil butuh 50 tahun untuk pengembangan bioetanol. Sekarang Brasil santai saat krisis harga minyak. Intinya, kita jangan tergantung fosil, kembangkan bahan bakar alternatif yang bisa menguntungkan petani,” papar dia.
Toyota, kata dia, melihat ada peluang di bahan bakar alternatif. Di luar itu, Toyota juga menggarap mobil hybrid dan listrik murni. Toyota akan melokalisasi baterai mobil elektrifikasi yang dijual di Indonesia.
Intinya, dia menuturkan, efisiensi energi sangat mendesak dilakukan. Sebab, pengembangan energi baru terbarukan (EBT) membutuhkan waktu panjang.
“Kita lihat mobil hybrid dengan baterai kurang 1 kw bisa mengurangi konsumsi BBM hingga 50%,” kata dia.
Bob menegaskan, beberapa produk Toyota sudah kompatibel dengan bahan bakar etanol. Dibutuhkan sedikit modifikasi di bagian intake, cylinder head. Intinya, jangan sampai etanol memicu korosi.
Toyota, kata dia, juga selalu memberikan setiap generasi produk lebih efisien bahan bakar. Contohnya, Zenix ICE terbaru lebih hemat bahan bakar, setara Prius hybrid generasi satu. Bahkan efisiensi bahan bakar Zenix hybrid setara dengan Prius PHEV pertama.
“Krisis energi saat ini menjadi momentum untuk mengakselerasi produk otomotif yang hemat bahan bakar. Sekarang konsumsi bahan bakar hybrid Toyota bisa 20-30 kilometer per liter. Ke depan, ini bisa ditingkatkan,” papar dia. (gbr)










