Jakarta, Motoris – Kementerian Perindustrian mendorong pemberian insentif nonfiskal bagi kendaraan berteknologi hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan range extended electric vehicle (REEV). Kebijakan ini bertujuan mempercepat pertumbuhan industri otomotif nasional sekaligus meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menjelaskan insentif tidak melulu berupa keringanan pajak. Kemudahan kemudahan operasional harian dinilai sanggup memberikan manfaat langsung bagi para pengguna kendaraan ramah lingkungan seperti dalam bentuk insentif nonfiskal.
“Nonfiskal itu misalkan administrasi, di kota-kota bisa dipakai, ganjil genap tidak terkena, ada parkir khusus. Mungkin juga kalau yang masih perlu charger, ada fasilitas charger dan sebagainya,” ujar Menperin Sarmuji seusai melakukan pertemuan dengan pengurus Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) di Jakarta, Kamis (22/10).
Sarmuji menilai selama ini kendaraan listrik berbasis baterai penuh (BEV) sudah mendapatkan insentif memadai seperti bebas ganjil genap. Namun skema insentif untuk varian hybrid, PHEV, dan REEV belum dirumuskan secara khusus padahal ketiganya berkontribusi besar menekan konsumsi BBM bersubsidi dan emisi.
“Kalau full battery selama ini sudah ada insentif yang memadai, baik berkaitan dengan administrasi maupun ganjil genap. Sementara yang plug-in hybrid dan REEV itu akan dirumuskan (penambahan) insentifnya,” ungkapnya.
Selain opsi nonfiskal, pemerintah tetap mengkaji potensi keringanan pajak walau besarannya tidak disamakan dengan BEV.
“Keringanan pajaknya tidak harus sama. Yang penting ada insentif sehingga industri juga tumbuh. Karena manfaatnya juga sama-sama dirasakan, baik untuk masyarakat maupun negara,” jelasnya.
Dari sudut pandang industri, teknologi hybrid hingga REEV masih memanfaatkan komponen mesin pembakaran internal (ICE) sehingga memberi ruang adaptasi bertahap bagi pabrikan komponen lokal.
“Kalau yang plug-in maupun hybrid biasa maupun REEV itu masih memakai baterai, tetapi juga masih memakai mesin ICE. Jadi, komponen-komponen yang sekarang diproduksi tidak perlu berubah secara total. Menyesuaikan dirinya masih lebih mudah,” kata Sarmuji.
“Insentif akan kita dorong secepatnya. Mumpung ada momentum harga BBM lagi naik, ini momentum untuk memperkuat industri berbasis baterai, tetapi dengan berbagai jenis tadi. Ini target diusahakan tahun ini,” ujarnya.
Ketua Umum GAIKINDO Putu Juli Ardika mendukung penuh inisiatif Kemenperin tersebut demi menjaga keberlanjutan ekosistem industri otomotif.
“Kita mengikuti arahan Kementerian Perindustrian dan kita berharap bahwa itu bisa mendorong pertumbuhan industri kendaraan bermotor. Di samping itu, ekosistemnya juga akan terjaga dan berkembang,” ujar Putu.
“Itu sudah dilakukan survei dan sudah kita laporkan kepada Kementerian Perindustrian bahwa dari kendaraan-kendaraan yang diproduksi itu sebagian besar bisa memenuhi ketentuan TKDN 60 persen,” jelasnya.










