Jakarta, Motoris – Raksasa otomotif asal Tiongkok BYD tengah menghadapi masa sulit setelah mencatatkan penurunan penjualan tahunan selama delapan bulan berturut turut. Berdasarkan data bulan April perusahaan hanya mampu menjual 314.100 kendaraan penumpang atau merosot sebesar 15,7 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Meskipun angka tersebut menunjukkan kenaikan tipis dibandingkan bulan Maret performa BYD secara keseluruhan tetap berada di bawah tekanan besar. Sepanjang periode Januari hingga April total penjualan kendaraan penumpang menyentuh angka satu juta unit namun nilai tersebut sebenarnya turun drastis sebesar 26,4 persen secara tahunan. Melemahnya permintaan di pasar domestik Tiongkok menjadi faktor utama yang menghambat pertumbuhan sang raksasa Shenzhen ini.
Kondisi tersebut memaksa BYD untuk bergantung penuh pada pasar internasional demi menjaga napas bisnisnya. Penjualan luar negeri memang mencetak rekor 134.542 unit atau melonjak 70,9 persen namun lonjakan tersebut belum mampu sepenuhnya menutupi kekosongan di pasar lokal. Saat ini kontribusi ekspor telah mencapai 42,8 persen dari total volume penjualan yang menunjukkan betapa rapuhnya ketergantungan mereka pada pasar dalam negeri.
Sektor finansial perusahaan juga menunjukkan tanda bahaya dengan laba bersih kuartal pertama yang terjun bebas hingga 55,4 persen menjadi sekitar 4,09 miliar yuan. Perang harga yang brutal di Tiongkok serta tingginya biaya perangkat keras telah memangkas margin keuntungan secara signifikan. Merek utama seperti seri Dynasty dan Ocean bahkan mengalami kontraksi penjualan hingga 21,2 persen yang menjadi pukulan telak bagi tulang punggung bisnis mereka.
Manajemen BYD kini sedang bertaruh pada peluncuran model baru serta teknologi pengisian daya ultra cepat untuk membalikkan keadaan. Mereka berharap inovasi seperti pengisi daya Flash dapat menjadi penyelamat di tengah persaingan kendaraan listrik yang kian tidak sehat. Keberhasilan BYD untuk keluar dari tren negatif ini akan sangat bergantung pada seberapa cepat pasar global merespons teknologi baru mereka di saat pasar domestik terus menunjukkan tanda tanda kelelahan yang nyata.










