Jakarta, Motoris – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau GAIKINDO menyuarakan sikap kritis terhadap rencana impor kendaraan niaga dari India. Di tengah kondisi pasar domestik yang sedang tertekan, GAIKINDO menegaskan bahwa industri otomotif nasional memiliki kapasitas produksi yang sangat mumpuni bahkan masih belum terpakai secara optimal.
Saat ini 61 perusahaan anggota GAIKINDO memiliki total kapasitas produksi hingga 2,5 juta unit per tahun. Khusus untuk segmen pick up, kapasitas produksi nasional mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun. Mirisnya, angka besar ini belum terserap sepenuhnya oleh pasar. Produk lokal tipe 4×2 juga sudah memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN di atas 40 persen dengan dukungan jaringan servis yang merata.
Ketua Umum GAIKINDO Putu Juli Ardika meyakini bahwa ketergantungan pada impor tidak diperlukan jika industri otomotif dalam negeri diberi ruang.
”Sebenarnya anggota GAIKINDO dan juga industri-industri pendukungnya, diantaranya industri komponen otomotif yang tergabung dalam GIAMM mempunyai kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun memang diperlukan waktu yang memadai agar jumlah dan kriterianya dapat dipenuhi,” ungkap Putu Juli, Jumat (20/2/2026).
Langkah mengimpor kendaraan dianggap sangat berisiko terhadap ekosistem otomotif nasional yang menyerap 1,5 juta tenaga kerja. Dengan penjualan domestik di bawah 1 juta unit, mengoptimalkan pabrik lokal adalah harga mati untuk menghindari pengurangan karyawan. Padahal secara kualitas, kendaraan rakitan Indonesia sudah diakui dunia dengan catatan ekspor mencapai 518.000 unit ke 93 negara.
GAIKINDO mendesak agar pemerintah memberikan waktu dan kesempatan bagi industri lokal untuk berpartisipasi dalam pengadaan kendaraan komersial ini. Penguatan manufaktur dalam negeri dianggap jauh lebih mendesak daripada membuka keran impor yang justru berpotensi mematikan potensi ekonomi nasional.










