Jakarta, Motoris – Toyota tak akan pernah membunuh mobil bensin alias pembakaran internal demi melistrikkan semua jajaran produk, karena adopsi mobil listrik murni (battery electric vehicle/BEV) lelet. Artinya, Toyota tak akan mengikuti pabrikan lain yang latah dengan BEV dan berani bilang akan membantai mobil bensin dalam jangka waktu tertentu, seperti GM pada 2035.
Hal itu ditegaskan bos besar Toyota Akio Toyoda. Dia masih percaya, ada kekhawatiran tentang seberapa cepat adopsi BEV di dunia. Pendeknya, apa benar konsumen ingin secepatnya beli BEV.
Berangkat dari sini, Akio memastikan, Toyota akan tetap menjual mobil bensin, hybrid, dan fuel cell electric vehicle (FCEV) di tengah rencana perusahaan menggeber penjualan BEV.
Menurut dia, adopsi BEV akan memakan waktu lebih lama dari yang selama ini digaungkan media. Toyota akan menawarkan pilihan powertrain paling lengkap untuk mendorong keberadaan mobil hijau.
“Ini adalah strategi kami dan kami akan tetap menerapkannya,” kata Toyoda dalam pertemuan dealer Toyota di Las Vegas, Amerika Serikat (AS), seperti dilansir Bloomberg dan diterbitkan Jalopnik, Jumat (30/9/2022).
Toyota santai saja, meski pemegang saham dan pejuang lingkungan mengkritik habis perusahaan ini, lantaran lambat menjual BEV. Bahkan, Greenpeace menempatkan Toyota di posisi buncit dalam daftar upaya dekarbonisasi pabrikan mobil dunia. Toyota dituduh sengaja melakukan ini demi mempertahankan mobil hybrid Prius yang menuai pujian selama 25 tahun.
Meski terbilang lambat, Toyota selaku pabrikan mobil nomor satu dunia berencana investasi US$ 28 miliar untuk memproduksi 30 BEV sampai 2030. Satu per satu mobil ini muncul, mulai dari BZ4X, BZ3, dan BZ2 yang disebut sebagai generasi baru C-HR.
Akio memastikan, Toyota hingga kini ada di posisi puncak dalam mengurangi emisi kendaraan bermotor di dunia melalui mobil hybrid. Toyota telah mengucurkan dana besar di teknologi ini dalam dua dekade, saat pabrikan mobil lain masih berinovasi di mesin bensin atau solar,
“Investasi kami memang terlihat kecil. Tetapi, jika kalian lihat apa yang sudah Toyota lakukan selama dua tahun, total investasi kami jauh lebih besar,” tegas Akio.
Bagi Akio, kurangnya infrastruktur akan membuat adopsi BEV lama. Ini menjadi alas an utama Toyota tidak akan membumihanguskan pilihan powertrain di luar BEV. (gbr)











Discussion about this post