Jakarta, Motoris – Pengembangan industri otomotif serta bahan bakar di Indonesia dinilai perlu menyesuaikan dengan karakteristik dan potensi sumber daya alam dalam negeri. Indonesia disarankan tidak mengekor penuh pada strategi transisi energi negara-negara di China maupun Eropa yang memfokuskan arus utama ke kendaraan listrik sepenuhnya.
Iman Kartolaksono Reksowardojo Guru Besar Universitas Pertamina menyatakan bahwa kondisi geografis dan kekayaan alam Indonesia memberikan posisi tawar unik yang tidak dimiliki negara-negara di kawasan sub-tropis. Maka dari itu, pendekatan multipathway atau ketersediaan ragam jalur teknologi dinilai lebih realistis untuk diterapkan.
“China, Amerika, Jepang, Eropa itu kan di sub-tropis. Mereka tidak punya kekayaan alam untuk bahan bakar nabati cair ya sehebat Indonesia yang kita sudah buktikan bahwa nomor satu. Jadi kita harus multipathway itu pesan saya,” ujar Iman dikutip Kamis (8/10/2026).
Menurutnya pilihan teknologi kendaraan masa depan di Indonesia sebaiknya tidak hanya bertumpu pada satu jenis sumber energi. Penggunaan mesin pembakaran dalam yang efisien, teknologi hibrida, kendaraan listrik, hingga pemanfaatan biofuel perlu berjalan berdampingan.
“Nah, jadi arahnya bukan 100 persen EV gitu. Tidak, tapi multipathway, istilahnya, bahasa kerennya gitu-gitu ya. Masih ada yang pakai ICE, ada yang ICE yang efisien. Kemudian ICE itu internal combustion engine. Kemudian ada hybrid, ada EV, dan ada biofuel atau itu kombinasi itu begitu. Jadi kita tidak harus berkiblat ke China atau ke Eropa karena kalau kita lihat Indonesia tuh punya posisi yang unik gitu ya,” katanya.
Selain teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam negeri menjadi poin penting agar industri nasional tidak sekadar mengejar pemenuhan angka Tingkat Komponen Dalam Negeri secara formalitas.
“Nah kita juga harus mengembangkan itu bukan cuma untuk istilah sekarang TKDN gitu untuk dijual tapi sumber daya manusianya kita harus bisa menangani itu sendiri begitu ya,” lanjutnya.
Mengenai tantangan bahan bakar hayati, Iman menilai kendala terbesar terletak pada dinamika sosial, ekonomi, dan politik. Kepastian regulasi jangka panjang serta keterlibatan sektor swasta menjadi kunci penting.
“Teknis sebetulnya saya pengalaman saya 20 tahun itu ya bisalah pasti kan banyak orang pintar ya. Tapi yang susah tadi sosial, politik, ekonomi gitu ya. Jadi dan pengalaman saya 20 tahun lebih itu supaya bisa jalan itu mandatorinya itu ya kebijakan,” tutupnya.










