Jakarta, Motoris – Di tengah gelombang modernisasi industri otomotif global yang serba otomatis, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia atau TMMIN justru masih bergantung pada tenaga kerja manusia dibanding robot di fasilitas manufakturnya di Karawang, Jawa Barat. Langkah ini memicu pertanyaan mengenai sejauh mana kapabilitas manufaktur lokal mampu mengejar efisiensi produksi kendaraan listrik yang menuntut ketelitian tinggi.
Wakil Presiden Direktur PT TMMIN I Nyoman Winaya menegaskan bahwa otomatisasi di pabrik Toyota dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan lini perakitan. Menurutnya, fokus perusahaan saat ini adalah menyeimbangkan modernisasi mesin dengan penyesuaian keahlian para pekerja.
“Namun, di saat yang sama, kami juga memastikan bahwa kemampuan dan kompetensi karyawan terus dikembangkan,” jelas Nyoman, saat ditemui di pabrik PT TMMIN, di Karawang, baru-baru ini.
Pihak manajemen mengklaim peningkatan keterampilan pekerja terus digenjot, terutama di bidang pemrograman dan teknologi digital. Hal ini dinilai krusial mengingat proses perakitan kendaraan elektrifikasi membutuhkan standar presisi dan keselamatan kerja yang jauh berbeda dibanding mobil bermesin konvensional.
“Khususnya dalam era elektrifikasi, sebelum memulai produksi kendaraan elektrifikasi kami melakukan persiapan bukan hanya dari sisi teknologi, dan fasilitas manufaktur, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia (SDM),” tambah Nyoman.
Penguatan kompetensi tersebut melingkupi spektrum kerja yang luas, mulai dari penanganan komponen hingga tahap akhir perakitan.
“Kami mempersiapkan SDM melalui berbagai kompetensi yang berhubungan dengan elektrifikasi dalam hal safety, proses produksi, proses delivery hingga kontrol kualitas,” tegas Nyoman.
Langkah elektrifikasi Toyota di Tanah Air sendiri dimulai lewat perakitan Kijang Innova Zenix Hybrid EV pada 2022, disusul Yaris Cross Hybrid EV pada 2023, serta model Battery Electric Vehicle bZ4X pada akhir 2025.
Kini, kesiapan SDM lokal diuji langsung oleh rumitnya perakitan komponen inti kendaraan listrik seperti baterai, Power Control Unit, transaxle, motor listrik, hingga wiring harness. Tanpa percepatan otomatisasi yang presisi, ketergantungan pada proses manual berisiko menjadi celah dalam persaingan efisiensi manufaktur otomotif nasional.










