Jakarta, Motoris – Toyota dikabarkan melobi sejumlah pejabat di beberapa negara agar tetap bisa menjual mobil hybrid, salah satu mesin duit pabrikan Jepang tersebut. Di beberapa pasar utama, seperti Amerika Serikat (AS), Toyota menentang mobil listrik sebagai pusat transisi dari energi fosil ke energi bersih di sektor transportasi.
Mengutip laporan CNN, Senin (11/3/2024), Toyota menerapkan strategi menjual mobil sesuai dengan keinginan konsumen. Alasannya, meski permintaan mobil listrik (EV) meningkat, masih ada masalah yang muncul terkait harga, daya jelajah, dan stasiun pengecasan baterai yang masih terbatas.
Keputusan Toyota fokus ke hybrid tak salah. Tahun lalu, Toyota menghancurkan semua rival dan menjadi pabrikan mobil terbesar di dunia.
Penjualan global Toyota mencapai 11,2 juta unit pada 2023. Dari jumlah itu, sepertiga merupakan hybrid dan EV, dalam hal ini PHEV dan BEV, hanya 1%.
Makanya, lembaga think thank InfluenceMap menyebut Toyota melobi pemerintahan di beberapa negara agar bisa menjual hybrid dalam 10 tahun ke depan.
Mengutip laporan Reuters, dalam proposal Badan Perlindungan Lingkungan AS atau US Environmental Protection Agency (EPA), pabrikan mobil wajib menjual 60% EV di AS pada 2030 dan 62% pada 2032. Proposal itu sudah dikirim ke pemerintahan Joe Biden untuk diulas. (gbr)
Discussion about this post